Dalam menghadapi setiap permasalahan, setiap manusia selalu cenderung mengedepankan ego yang dimilikinya. Pemikiran egois inilah sebenarnya yang membuat perbedaan satu dengan yang lainnya, ego yang dalam arti luas bisa dalam koridor kultur dan budaya yang bisa menimbulkan friksi-friksi dalam menyelesaikan perbedaan pandangan atau pendapat. Untuk itulah diperlukan pemikiran yang mempunyai wawasan yang luas dan dalam (universal) dan melihat sebuah permasalahan secara menyeluruh. Ibaratnya dalam menghadapi permasalahan tidak selalu berada dan larut di dalamnya. Ada kalanya perlu berada di luar ruang lingkup permasalahan dan melihat semua yang berhubungan dengan permasalahan itu dari luar
Pemikiran egois di atas bila dibiarkan maka akan mensikapi sebuah perbedaan sebagai sebuah pertandingan atau perlombaan yang harus dimenangkan. Bila ini dibiarkan, maka tujuan kebersamaan menuju titik temu masalah tidak akan pernah tercapai. Bukan saja menimbulkan friksi, tetapi juga akan mengakibatkan peperangan. Jalan keluarnya adalah saling introspeksi ke dalam mengenai keinginan dan kenyataan serta memadukannya dalam perbedaan-perbedaan yang ada, dalam koridor kebersamaan.
Hal yang paling krusial dalam menyatukan pendapat adalah memberikan argumen-argumen, membuka perbedaan-perbedaan yang ada dan mempunyai target yang harus dicapai. Masa-masa ini adalah yang paling sensitif sebelum memberikan keputusan akhir, karena pada masa ini setiap insan mempunyai agenda yang harus diperjuangkan. Harga diri dan martabat sebagai tolok ukur seorang individu kadang menghambat penyelesaian masalah. Di masa-masa lalu, harga diri dan martabat menjadi sebuah alasan untuk menolak atau memaksakan kehendak. Sering yang terjadi adalah debat kusir ketimbang diskusi. Diskusi merupakan sebuah cara untuk pencapai kata sepakat, menyatukan pendapat dan menghasilkan sebuah keputusan yang bulat. Untuk mencapai ini, maka dibutuhkan pola pikir-pola pikir diatas, keberanian mengemukakan pendapat dan jiwa ksatria dalam menerima keputusan akhir
Hanya ada satu hal yang bisa ditanamkan dalam pola pikir universal ini adalah keterbukaan untuk mencapai kebersamaan. Pola pikir terbuka (open mind) berguna bukan hanya dalam prospek menyatukan pendapat, akan tetapi juga dalam menyerap segala informasi untuk disatukan dalam wawasan pemikiran sebagai modal awal pola pikir universal. Dan janganlah lupa untuk selalu berdoa minta petunjuk dari Allah untuk menunjukkan jalan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar